Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Rabu, 19 Oktober 2022

Opini : Parkir, Trotoar, dan Pejalan Kaki

Parkir, Trotoar dan Pejalan Kaki


Parkir, Trotoar dan Pejalan Kaki unsur-unsur ini selalu menjadi permasalahan yang dihadapi sehari-hari ini. Sering kali kebijakan dan pelaku kepentingan bersebrangan dalam menerapkan aturan.

Konteks utamanya, sebenarnya lebih ke masalah ekonomi dan masalah ketertiban.


Dengan berlaku tertib dan taat aturan harusnya pengelolaan parkir, trotoar dan pejalan kaki bisa lebih "fair" lagi.


Tomoisme coba rincikan lagi per kata,


A. Parkir

Lahan parkir secara mudahnya lahan yang digunakan untuk memarkir kendaraan. Artinya semua jenis kendaraann punya tempat parkirnya masing-masing. 


Polemik parkir, selain terkait trotoar dan pejalan kaki. Pernah juga dialami oleh seorang supir takis yang sedang berhenti di sebuah tempat.


Alih-alih berhenti, ternyata mendapatkan tilang karena melanggar aturan parkir.


Apa sih bedanya parkir dan berhenti?


Kalau tomoisme coba gali lagi, parkir sebenarnya lebih ke tempat/area yang dikhususkan untuk menyimpan kendaraan dalam jumlah tertentu dan untuk masyarakat umum bukan pribadi dan biasanya berbayar, walaupun ada juga yang gratis


Kalau menyimpan kendaraan dalam jumlah tertentu untuk pribadi namanya garasi.


Lanjut ke polemik tadi,


Bedanya dengan berhenti, makna berhenti lebih cocoknya dipakai sebagai kata kerja dari sebuah benda. Berhenti jika diambil contoh seperti kendaraan yang berhenti di lampu merah, kendaraan yang berhenti di terminal atau stasiun. Semacam itu kurang lebih penggunaan kata kerja dari berhenti yang dipahami banyak orang.


Ketika seseorang ditilang dengan dalih parkir padahal ia sedang berhenti. Siapa yang salah?


Biar ini menjadi perdebatan netizen, biar viral dan biar masuk berita.


Berikutnya,


Parkir memang menjadi lahan basah bagi banyak orang yang sulit mendapatkan pekerjaan atau enggan bekerja. Karena jenis pekerjaan satu ini sangatlah mudah.


Khusus parkir liar, sejatinya tanpa modal. Parkir liar jenis inilah yang membuat orang merasa dirugikan karena mereka memanfaatkan situasi dan kondisi untuk melakukan pemerasan/pungli dengan dalih parkir.


Banyak kita jumpai, tidak perlu disebutkan lagi. Silahkan kalian cermati.


Khusus parkir bukan liar, sejatinya perlu modal. Seperti parkir di mall, bank, dan instansi pemerintah. Biasanya parkir yang disediakan sudah ada tukang parkirnya. 


Usut punya usut, parkir jenis ini, parkir yang harus membayar lahan parkir, bayarnya langsung ke pihak yang dimaksud misal di mall, pihak mall, bank ke pihak bank dst.


Biayanya juga tak murah, bisa dari puluhan sampai ratusan juta rupiah.


Setelah membayar lahan parkir, tukang parkir ini bebas menarik uang parkir ke setiap orang yang memarkir kendaraannya di mall, bank dll.


Di topik yang lain,


Setelah tadi disebutkan tentang instansi pemerintah, Tomoisme juga berpikir keras, sekelas Samsat dan Satpas, dua instansi yang pernah Tomoisme datangi kok bisa-bisanya menarik uang parkir?


Bukannya, harusnya instansi pemerintah itu bebas parkir, sama seperti slogan mereka No Pungli.


Kan mereka kantor pelayanan publik?


Cobalah bagi instansi terkait yang membaca artikel ini, dipikir kembali, apakah layak sekelas instansi menarik uang parkir. Kalau memang mau ambil untung, kan udah ambil untung dari biaya pajak kendaraan dan biaya pembuatan simnya. (Untung yang dimaksud buat kepentingan negara)


Cobalah bikin gebrakan kayak Pertamina yang menggratiskan biaya ke Toilet setelah viral diinternet.


Kembali lagi ke fokus utama kita,


Dari beragam cerita yang diulas tadi, parkir menjadi hal yang sangat sensitif bagi orang-orang yang tidak ingin diintimidasi oleh tukang parkir. 


B. Trotoar

Trotoar dibuat untuk pengguna jalan. Aspal dibuat untuk pengguna kendaraan. Jadi fungsi masing-masing saja sudah berbeda. Jadi jangan asal-asalan dalam menerapkan fungsi.


Penyalahgunaan fungsi inilah yang diatur dan dikelola pemerinta agar masyarakat teredukasi dan tertib.


Diedukasinya bukan cuma fungsi tapi lebih ke hak dan kewajiban. Bila perlu dipampang, 


"Trotoar adalah Hak Pengguna Jalan. Jika Hak Pengguna Jalan kalian rebut, Siap-siap di akhirat hak kalian direbut. Mengabaikan nasihat ini berarti menolak aman di akhirat"


Kurang lebih seperti itu.


Dan trotoar yang dibuat pun jangan asal jadi, harus sesuai dengan fungsinya juga. 


Kalau asal jadi malah membahayakan.


Ada teman-teman difabel juga yang perlu diperhatikan.


Keliatan sederhana tapi cukup rumit kalau kita lebih "attention to detail" terkait perkara trotoar ini.


C. Pejalan Kaki

Pejalan kaki mulai kurang diperhatikan karena jalan kaki saat ini hanya sebatas jalan kaki biasa. Bukan budaya dan bukan gaya hidup masyarakat kita.


Kalau budaya jalan kaki sudah mendarah daging berarti kebiasaan ini bakalan terus dipertahankan. 


Masa jalan kaki aja harus jadi budaya, siapa aja kan bisa jalan kaki?


Maksudnya kebiasaan jalan kaki di tempat umum itu harusnya lebih digiatkan dengan pembiasaan yang lama-kelamaan akan menjadi budaya.


Contoh, negara Jepang.


Mereka selalu jalan kaki, kalau memang perjalanan jauh, naik kendaraan umum, walau beberapa memang pakai kendaraan pribadi tapi jumlahnya masih banyak yang jalan kaki sama pakai kendaraan umum.


Jalan kaki pun kalau ditelaah lebih jauh, aslinya lebih sehat lho. 


Capek memang, tapi kalau dirutinkan badan sehat karena berkeringat dan tidur jadi lebih nyenyak karena kecapean.


Kesimpulan yang ditarik dari Parkir, Trotoar dan Pejalan Kaki dengan lebih menyeimbangkan fungsi, tatanan dan para pelaku di dalamnya agar bisa berjalan dengan baik tanpa konflik dan berakhir dengan kedisiplinan.


Masyarakat kita kalau sudah bisa menampatkan diri sesuai fungsi, pemerintah selaku pemangku kebijakan bisa lebih menata kembali tata ruangnya dengan benar (bukan cuma baik), dan para pelaku di dalamnya bisa lebih menurunkan ego demi kepentingan umum. Maka tidak perlu ada sikut-menyikut yang terjadi dan akhirnya semua terkontrol.

Jumat, 14 Oktober 2022

Opini : Perdamaian Dunia

Opini : Perdamaian Dunia

Perdamaian Dunia

Kerusakan di muka bumi disebabkan banyak faktor, terutama dari faktor internal yang cepat merusak yaitu manusia.

Tidak ada keadilan di muka bumi jika manusia masih ingin berkuasa dan ingin memiliki segala hal yang ada secara berlebihan dengan tujuan ia akan merasa nyaman dan aman.

Padahal rasa aman dan nyaman bukan terletak pada apa yang kamu miliki, tapi justru dari apa yang kamu terima dan nikmati.

Menurut Tomoisme, kasta dalam hidup itu hanya boleh ada 2, 

1. Orang suci
2. Orang pembelajar

Orang suci diisi oleh sedikit orang yang dianugerahi kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang lebih dominan. Mereka lebih sering memikirkan orang lain, terutama yang ada disekitarnya ketimbang memikirkan dirinya sendiri.

Orang suci hadir sebagai pencerah jiwa dan penuntun manusia untuk berpijak ketika mereka berada dalam keadaan bingung dan berdosa.

Orang suci bagi sebagian orang lebih dikerucutkan kepada pemuka agama.

Setiap agama mengajarkan kebaikan, kebaik-kebaikan inilah yang perlu terus dilestarikan dan dipertahankan.

Tak akan ada hikmah bila orang tak merasakan nilai hidup dari apa yang menyadarkan mereka.

Dan perlu diingat, orang suci tidak pernah menyebut dirinya suci. Dia lebih sering merendahkan hati di hadapan manusia dan merendahkan diri mereka di hadapan Tuhan.

Lalu bagaimana dengan orang pembelajar,

Orang pembelajar adalah semua orang yang masih belum memiliki kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual secara ideal. Potensi diri mereka lebih tercurahkan kepada kecerdasan intelektual dalam mengelola bumi dan seisinya.

Orang pembelajar akan terus belajar dan berguru kepada orang lain. Mereka tidak akan pernah puas dengan hasil belajarnya.

Ketika pelajaran hidup yang ia terima sudah pernah terjadi, ia harus mencari pelajaran hidup lainnya agar ia semakin mengerti.

Orang pembelajar ini sering diganggu, dalam mencapai tujuan belajar mereka.

Belum lagi di dalam orang pembelajar itu sendiri, dipecah-pecah menjadi banyak kasta  yang sudah tidak bisa dikontrol lagi.

Ketika muncul kata orang terkaya di dunia di berita ataupun di majalah. 

Sudah sangat menciderai konsep pembelajar.

Kenapa setiap kali membahas sesuatu yang sifatnya materi tolak ukurnya harus angka.

Kenapa tidak dengan kebaikan yang mereka lakukan saja.

Misal, ketika ada orang yang sudah mapan, tak perlu lah diungkit-ungkit harta miliknya, bahkan sampai dihitung-hitung hanya untuk dijadikan bahan pergunjingan di kalangan manusia lainnya.

Kalau memang dia seorang pembelajar yang baik, ia akan fokus dan berkonsentrasi pada nilai kebaikan yang bisa ia lakukan.

Seperti kisah para sahabat Nabi, mereka tidak pernah menghitung harta yang mereka miliki untuk ajang pamer atau ajang adu kekayaan. Mereka hanya menghitung harta yang mereka miliki untuk bisa dibagikan ke orang miskin dan orang-orang yang membutuhkan.

Karena menurut Tomoisme, para sahabat sadar ketika angka dipakai untuk ajang adu pamer dan adu kaya, nominal yang tertera semakin menyadarkan bahwa mereka tidak memiliki apa-apa.

Katakanlah, ketika mereka memiliki harta dengan total kekayaan 1 triliun, mereka sadar bahwa cuman hanya ada angka 1 yang bertahan dari rentetan angka 0 dibelakangnya yang berjumlah dua belas.

1.000.000.000.000 dibanding 10 jauh lebih baik 10.

Mengapa?

Karena hisabnya cuma sekali, sedangkan 1.000.000.000.000 hisabnya akan lebih banyak yaitu sebanyak 12x.

Syarat dunia damai, cukup penuhi 2 hal ini

1. Tidak ada lagi ajang adu kekayaan dan orang bersyukur dan menerima apapun yang dimiliki dan kelola apa yang ada di bumi untuk kemaslahatan bersama. 
2. Jangan mau dipropaganda baik melalui buku, berita ataupun ramalam-ramalan dusta.

Propaganda yang muncul dari awal perang, yang sering kita dengar kisahnya yaitu tentang

1. Penjajahan = materi (awal terjadinya kolonialisme)
2. Pembunuhan = propaganda (awal terjadinya perang dunia 1)
3. Terinspirasi buku = propaganda (awal kemunculan republik)
4. Perbedaan sosial dan politik = propaganda (awal kemunculan perang suatu negara)
5. Kepentingan = propaganda (awal perang arab spring)

Tapi apakah manusia mau duduk bersama untuk mengatasi itu,

Jawabannya : Tentu tidak, karena manusia berada pada pendiriannya masing-masing dan diantara mereka saling merasa superior.

"Makin hari, makin susah saja menjadi manusia yang manusia. Sepertinya menjadi manusia adalah masalah buat manusia."

Tomoisme hanya akan menunggu kata damai, jika sang ratu adil sudah datang dan kita semua kembali ke tempat asal kita.